Kala Caraka (Bagian 1)
Surabaya, 20 April 2023
CERPEN


Bertemulah engkau dengan pagi. Dan bacalah tulisan ini jika waktu sedang tidak menuntutmu untuk segera. Karena di bait-bait berikutnya, akan ku-ajak engkau menyelami retorika original karya Tuhan untukku.
Entah mengapa ketika pagi hadir, seolah secara sengaja ia memukul keras bagian belakang kepalaku hingga aku terbangun, dan entah mengapa juga selalu pas-pukul 7:10. Kamar kosan 3x3 yang entah menurut bayanganmu se-layak apa ?, bau puntung rokok sisa kemarin yang menyengat, tirai yang sobek pas-ditengah yang membuat cahaya surya selalu berusaha mengintipku yang sedang terlelap. Tak lupa juga ranjang keras dan bantal buluk yang tak kuharap mereka setia mengisi lelapku.
Surabaya 17 Mei, setahun setelah pandemi berlangsung. Banyak ‘entah’ yang mengisi kosongnya kepalaku yang pada dasarnya... tak berdasar. Entah mengapa hari ini terasa berjalan lebih lambat dari biasanya, terasa lebih berat dan lengket. Kedua mata semu-ku meratapi tiap sudut ruang, ruang yang entahlah..., aku bosan melihatnya, tapi pindah bukanlah solusi akurat.
Aku angkat punggung sialan ini dari kasur sialan yang selalu membuatku frustasi, yang karenanya, punggung ini selalu terasa nyeri tiap pagi. “Argh..., anjing !”. Yah itulah umpatan ramah pagi ini. Hal selanjutnya adalah mandi, aku yakin kau tak perlu narasi deskriptif tentang bagaimana caraku mandi. Setelah itu, biarkan Supra-X 2008 butut itu yang bercerita.
Ku susuri jalanan lembab kota ini, kian lama kian panas, tak se-sejuk angin kampung halamanku, tatkala harum tumis masakan ibu menerobos masuk jaringan pernapasanku, diiringi irama ocehan bapak yang lantang tentang kerasnya hidup. Hah..., lagi-lagi aku rindu. Dalam se-persekian detik, neocortex di otakku memerintahkan untuk fokus pada tujuan selanjutnya. Tujuan yang sebenarnya enggan ku tuju.
Selamat datang di Disco Electronics, toko kusam dengan tumpukan komponen antah-berantah yang ketika kau melihatnya, kupastikan kepalamu mendadak sakit. Debu, bau masam dari rak baterai yang mungkin mulai membusuk bak buah apel yang mulai keropos dimakan waktu, pencahayaan yang kurang, pekat-nya menusuk hati tatkala aku masuk di sela sempit lorong antara barang antik, yang konon adalah cikal bakal kemajuan teknologi modern, yang sebenarnya saat ini pun sudah tak relevan dan jauh tertinggal.
Namun kau harus kenal pemiliknya. Engkong Sun, pria cina tua berambut putih namun kadang hitam dari sisi lainnya, umurnya 54 tahun, tapi cukup cadas dan tanggap dalam menggugat setiap topik pembicaraan. Ia suka bercerita dan berdebat tentang banyak hal denganku ketika pelanggan tak kunjung datang. Sayangnya, dari 8 jam waktu operasional toko, dan 6 jam jadual kerjaku sebagai karyawannya, kami berdebat hampir 5 jam dalam sehari. Tapi jika ku telaah lagi, mungkin dia yang menyumbang sebagian besar cara pikir kritisku.
“Nek kamu tak suruh milih Nyo, mending untung 100 ribu tapi gak sido untung, opo untungmu jadi 60 ribu tok, tapi sido deal ?”
Terpampang jelas ras diwajahku, tapi entah mengapa ia suka memanggilku dengan sebutan ’Nyo’ , dan hanya aku saja yang dipanggilnya begitu. Yah begitulah cara ia mengawali perdebatan. Untuk gaji 2 juta per bulan, 6 jam kerja per hari, hal
ini tak begitu buruk.
Tepat 13:30 aku pamit, “Ati-ati Ka !” Kata Rina tanpa menghadapku dan terus sibuk mencatat barang keluar hari ini, yang jumlahnya-pun tak seberapa itu. Angin berhembus membelai kulit ini, bau bensin dan solar mulai menyelimuti kota yang terik itu. Mataku perih, lelah, tapi ku tahu didepan sana masih ada tanggung-jawab lain yang menanti.
Di lampu merah, ponselku berdering tanda orderan masuk, sekarang waktunya membuka aplikasi dan membawa penumpang ketempat tujuannya. Ku dapati seorang wanita cantik, perpaduan antara merah cherry dan hitam mewarnai rambutnya yang digulung kebelakang, wanginya menyelimuti domain pikiranku, jika kau penasaran tentang gaya berpakaiannya ?, ku sarankan kau melihat wanita-wanita di film Piccole Donne, namun dengan sedikit balutan aksesoris modern.
“Atas nama Anggit ya kak ?” Tanyaku,
“Iya mas, betul Raka ya ?” Tanya-nya balik,
“Siap, betul kak, sesuai tujuan ya kak ?, ini helmnya kak...” Jawabku. Sembari ia meraih helm dari tanganku, yang di sela itu dibukanya gulungan rambut indah itu..., dan kudapati panjangnya hanya se-bahu.
Aku tertegun, namun aku adalah orang tahu diri. Dengan kecepatan maksimal 40 km/jam, ku antar dia ke tempat tujuannya. Obrolan kecil kita terjadi tatkala ia bergumam sendu dengan alunan nada yang sepertinya aku tahu. “Don’t you notice how ?, I get quite-“
“Suka Laufey juga toh kak ?” Sela-ku pada gumam-nya sembari membelah kroditnya jalan.
“Eh ?, mas-nya juga tau Laufey ?” Tanya-nya balik. Entah mengapa setiap kali ku tanya, dia selalu bertanya balik.
Namun dari lempar-tangkap pertanyaan itu, akhirnya aku pun tahu... Mahasiswi Sastra di kampus yang sama sepertiku, sayangnya aku terlalu malu untuk mengaku, semester 4, anak terakhir dari 3 bersaudara, dimanja, namun menolak untuk manja. Sesampainya di salah satu cabang Bank Swasta yang terkenal itu, ia membayarku dengan tunai sembari berpamitan,
“Terimakasih mas Raka, sukses selalu ya mas...”
Senyumnya merekah, senyum yang sering kali ku-curi lewat kaca spionku, dan sekarang semesta memberikanku kesempatan untuk sekedar benar-benar menatapnya. Aku tak menjawab, hanya mengangguk canggung. Canggung karena ku rasa sejuk, sejuk yang tak datang dari angin, sejuk yang sepertinya seringkali ku temui setelah hampir 2 tahun ku-lakukan pekerjaan ini, dan setelah bertemu ratusan manusia. Tapi kali ini... sungguh berbeda.
Sekarang pukul 17:07, parkiran kampus memulai transisinya, motor mahasiswa kelas pagi bergegas pulang, dan kerumunan mahasiswa kelas malam mulai menata motornya satu-per-satu. Ku lirik orang sebelahku, Terpampang jelas emblem Patagonian Eagle di sisi kanan motornya, “Benelli 250...” gumamku. Motor yang menurutku keren, namun sepertinya terlalu muluk untuk orang sepertiku.
Aku berjalan di lorong kampus, entahlah... setiap pagi aku selalu bangun dengan beragam kekesalan, namun tiap senja mulai hadir, rangkaian kesal itu perlahan berubah menjadi kumpulan pasrah yang alunannya berkesinambung dan sangat pelan. Terlalu pelan sehingga mampu ku terima dengan lapang. Kelas jam pertama dimulai, meskipun lelah, ocehan dosen didepanku perlahan ku telaah, ayolah..., aku melakukan ini semua agar otakku yang haus terisi, agar kelak di masa depan aku punya kesempatan hidup layak dengan uang segepok di dompetku, takkan ku sia-siakan detik demi detik. Seiring waktu ku lirik buku catatanku yang mulai terisi hampir penuh setiap lembarnya, namun di sela padatnya materi yang tersuguh, dering bergema memecah fokus seisi ruangan, dan sayangnya ia datang dari ponselku.
Aku mengambil hak-ku untuk menerima telfon dan keluar dari peliknya kelas. Terpampang jelas di layar bertuliskan ‘Ibuk Nomor Baru’. Entah mengapa jantungku tiba-tiba berkontraksi tak seperti biasanya ketika menerima telfon dari Ibu.
“Nggih Buk ?, pripun ?” Kataku lembut lewat telfon.
“Mas dimana ?, di kampus ?” Pertanyaan itu dibalas bukan oleh ibu, tapi oleh Romi, adikku.
“Oh Romi ?, iya le mas dikampus. Nyapo le ?” Tanyaku balik.
“Mas, minggu ngarep aku mulai mlebu sekolah mas, kurang duit seragam, bek-ne enek pean kirimi aku ya mas” Tuntutnya. Romi mulai masuk tahun ajaran baru, mungkin Bapak sedang kurang, sepantasnya ia meminta pada anak pertama Bapaknya.
“Oalah..., oke le, mengko nek enek tak transfer” Jawabku singkat dan segera ku-tutup telfon itu dan ku selesaikan tanggung jawabku.
Seperti biasanya, peliknya rutinitas selalu ditutup oleh pusing yang tak tertahan di sisi kanan mataku. Hilangnya senja sampai tak ku sadari, namun aku selalu sadar akan ada angin malam yang tak lelah menjemput hening-kalutnya pikiranku. Aku kembali berjalan menyusuri lorong, kulihat dari gedung kelas lantai 2 parkiran mulai sepi, dari saku kemeja ku rogoh sebungkus rokok dan koreknya,
“Barangkali rokok bisa jadi ibuprofene” pikirku.
Tiap hisapan rasanya bermakna, tiap hembusan mempertebal makna itu. Waktu mulai mengibaskan sayapnya angkuhnya, seolah tegap didepanku, seakan dia penguasa segalanya. Aku berhenti sejenak di gubuk kayu dekat gedung rektorat, sembari memandang langit, sembari bernapas, sembari mengumpat “Anjing !”.
Caraka
Saat seorang insan,
Dan insan lain dipertemukan. Saat satu garis,
Dan garis lain disatukan.
Ini adalah kisah
Tentang sebuah retorika Tuhan
Yang datang...
Tatkala langit sedang kemerah-merahan.
Yah..., seperti yang kau tahu Memisahkan isi kepala
Antara urusan dompet dan gelar, Tidak semudah seperti merayu ibu Untuk membelikanmu baju baru.
Langkah yang angkuh dan kaku itu
Seakan membelah ombak, karang, dan badai Seolah itu semua
Hanyalah sapuan lembut angin kala senja.
Namun sang insan tetap kukuh dan angkuh.
Surabaya, 20 April 2023 Ardan Putra Widodo.
Di-iringi tenggelamnya
Cahaya Kemerah-merahan itu... Langkahnya kian mantab menapak
Tapi apalah arti semua itu ? Mungkin...
Hanya sekumpulan insan terpilih, Yang dibenturkan ruang dan waktu.
Di hiraukan-nya senja yang kian lama, Kian merajuk.
Tenggelam di ufuk barat bumi cakrawala
Dia adalah Caraka, Utusan, suruhan, dan wakil.
CERITA PENDEK
PUISI
RENCANNYA NOVEL
Tentang Aku
Hai !, aku Ardan. Seorang bujangan dan pujangga yang sedang asyik-asyik-nya menulis. Seorang anak pertama dari ketiga adik laki-laki ku, yang kadang lelah dan kadang payah. Yah..., seorang yang kadang begini kadang begitu.
Cita-citaku menjadi kaya, bukan jadi seorang penulis. Tapi soal menulis?, aku sepenuh hati.
Kenapa Menulis?
Pengen aja.
Kenapa Tulisannya Gajelas??
Dari lahir emang udah gajelas, berharap apa kalian?.
Kenapa Warna Ungu??
Karena aku JANDA !!!!. Puas?.
Kenapa Covernya AI??
Gapapa, asal karyanya Original Boii !!!.
© 2026. Ardan Putra Widodo All rights reserved.
